Membangun “Pop-Up Book” Ekonomi: Masa Depan Anak dalam Lipatan Pajak

 Membangun “Pop-Up Book” Ekonomi: Masa Depan Anak dalam Lipatan Pajak

Ditulis oleh Pratiwi Eka Putri

Meja kerja saya jarang terlihat rapi. Di sana selalu ada potongan kertas warna-warni, gunting, lem, sketsa ilustrasi, sekaligus laptop yang terbuka untuk menyusun modul ajar interaktif. Sebagai penulis buku anak yang juga menggeluti pembuatan bahan ajar digital, saya belakangan jatuh cinta pada mekanisme pop-up book—buku yang ketika dibuka, gambarnya muncul tiga dimensi, seolah hidup dan nyata. Di sela kesibukan merancang cerita anak dan konten pembelajaran, saya menyadari satu hal: membangun struktur pop-up yang kokoh ternyata sangat mirip dengan membangun ketahanan ekonomi sebuah negara.

Indonesia kini berada di tengah “halaman” dunia yang penuh dinamika global. Konflik geopolitik di belahan bumi lain, perubahan iklim yang menggoyang harga pangan, gangguan rantai pasok, hingga gejolak harga energi dunia datang tanpa permisi. Sebagai ibu, saya merasakan dampaknya saat belanja mingguan. Sebagai seseorang yang bergerak di ranah pendidikan, saya melihatnya sebagai ancaman terhadap kesinambungan anggaran yang selama ini menopang akses belajar anak-anak kita. Bagaimana memastikan “buku” masa depan generasi mendatang tetap berdiri tegak saat dibuka—tidak letoy, apalagi robek—ketika badai global melanda? Jawabannya terletak pada ketahanan fiskal, yang ditopang oleh perluasan basis pajak.

Dalam pop-up book, sebuah gambar bisa berdiri tegak karena ditopang oleh banyak lipatan dan engsel kertas yang tersebar rapi di bagian dasarnya. Semakin banyak titik lipatan yang menanggung beban, semakin kuat struktur itu menahan tarikan tangan anak-anak yang membuka-tutup buku berkali-kali, bahkan ditarik agak kasar sekalipun. Sebaliknya, jika hanya satu atau dua lipatan saja yang menyangga gambar besar, ia akan cepat kusut dan roboh sebelum cerita selesai dibacakan. Begitu pula dengan pajak kita. Selama ini, beban pembangunan kerap bertumpu pada kelompok wajib pajak yang itu-itu saja. Lipatan yang sama, ditarik berulang-ulang, hingga rawan kelelahan dan rapuh saat menghadapi tekanan global yang datang bersamaan.

Di sinilah pentingnya perluasan basis pajak. Direktorat Jenderal Pajak sedang menambah lipatan-lipatan baru agar struktur fiskal kita lebih lentur sekaligus kokoh. Perluasan ini bukan berarti membebani rakyat kecil, melainkan menjaring potensi yang selama ini belum tersentuh: sektor ekonomi digital yang tumbuh subur di tangan generasi muda, transaksi lokapasar, layanan streaming, hingga jasa kreator konten dan kelas daring yang kini menjamur. Jenis pekerjaan semacam ini dulu mungkin luput dari radar perpajakan konvensional, padahal nilai ekonominya terus membesar dari tahun ke tahun. Dengan basis yang lebih luas, beban tidak lagi menumpuk di satu titik, tetapi terbagi secara adil—seperti lipatan kertas yang disusun merata agar setiap bagian buku tetap seimbang saat dibuka, betapapun banyak halaman yang harus ditopang.

Di tengah dinamika global yang tak menentu, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan sumber pendapatan tradisional yang rentan terhadap gejolak harga komoditas dunia. Perluasan basis pajak adalah strategi cerdas untuk menciptakan cadangan kekuatan fiskal. Ibarat saya merancang pop-up book: jika titik rekat dan lipatannya presisi serta tersebar baik, buku itu akan tetap berdiri sempurna meski kertasnya menua atau sering dimainkan anak-anak yang antusias. Inilah esensi dari strategi ketahanan fiskal—bukan soal seberapa tebal anggaran, melainkan seberapa kokoh dan merata fondasinya menopang beban dari segala arah. Tentu, sebagai orang yang biasa merancang pop-up book, saya menyadari bahwa sebanyak apa pun lipatan yang kita buat, tidak ada jaminan mutlak sebuah buku benar-benar kebal dari risiko robek jika diterjang badai yang luar biasa kencang. Namun, dengan terus merekatkan kaitan-kaitan baru dari sektor digital ke dalam sistem Coretax, kita setidaknya sedang mengupayakan agar beban pembangunan tidak hanya bertumpu pada satu-dua lipatan lama yang sudah mulai lelah.

Tentu, ada kekhawatiran yang wajar muncul, baik dari ibu rumah tangga, pelaku UMKM, maupun para pekerja lepas di ranah digital seperti saya: apakah ini akan semakin merepotkan? Di sinilah teknologi hadir untuk mempermudah. Reformasi melalui Coretax, atau Pembaruan Sistem Inti Administrasi Perpajakan (PSIAP), dirancang agar urusan pajak menjadi semudah mengeklik “beli” di aplikasi belanja. Integrasi data dan kemudahan akses adalah perekat berkualitas tinggi yang menyatukan setiap elemen bangsa ke dalam sistem yang transparan dan efisien, sehingga wajib pajak baru pun tidak merasa tersesat saat pertama kali ikut berkontribusi membangun halaman bersama.

Jika basis pajak luas dan sistemnya kuat, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita memiliki napas yang lebih panjang. Ketahanan fiskal, bagi saya, berarti jaminan bahwa subsidi pendidikan anak tetap terjaga, penyediaan bahan ajar digital di sekolah-sekolah pelosok terus mendapat dukungan, layanan di puskesmas tetap prima, dan jalan-jalan yang mempermudah distribusi pangan tetap terbangun agar harga di pasar tidak melonjak liar. Pajak bukan sekadar angka dingin di atas kertas, melainkan investasi kasih sayang untuk memastikan dunia yang akan ditinggali anak-anak kelak adalah dunia yang layak dihuni dan layak dipelajari.

Setiap cerita anak yang saya tulis selalu saya usahakan berakhir dengan kebahagiaan. Namun kebahagiaan sebuah bangsa tidak bisa hanya ditulis di atas awan imajinasi. Ia harus dibangun di atas fondasi keuangan yang sehat dan mandiri. Dengan memperluas basis pajak, kita sesungguhnya sedang menulis ulang skenario masa depan Indonesia agar tidak lagi bergantung pada belas kasihan ekonomi global. Kita sedang menyusun pop-up book yang tebal, kuat, dan penuh kejutan indah bagi generasi mendatang, halaman demi halaman, lipatan demi lipatan.

Mari kita lihat pajak dengan kacamata yang berbeda: bukan sebagai beban yang memangkas uang belanja, melainkan sebagai lipatan-lipatan kertas yang kita sumbangkan agar “Pop-Up Book” bernama Indonesia ini bisa berdiri megah di hadapan dunia. Saat anak-anak kita kelak membuka halaman masa depan mereka, mereka akan tersenyum melihat sebuah negeri yang tegak berdiri, tangguh menghadapi dinamika zaman—karena kita telah membantu menyusun strukturnya dengan tepat hari ini.


Komentar

Postingan Populer